Daftar Blog Saya

Kamis, 18 Desember 2008

KASUS LOCKERBIE


KASUS LOCKERBIE SANG ADIDAYA DI TIMUR TENGAH Pasca berakhirnya perang dingin, yang ditandai oleh bubarnya imperium kekuatan blok timur- sosialis; Uni Sovyet dan runtuhnya tembok
Berlin pada tahun 90-an, wajah dunia berubah drastis 180 deajat.

Perang ideologis yang selama itu menjadi cerita dan berita rutin yang mewarnai sejarah dunia pasca perang dunia II tampaknya menjelang akhir dengan mulai pudarnya cengkraman sosialisme yang direpresentasikan oleh kekuatan Uni Sovyet dan saat itu pula dua hegemoni global yang berseteru mulai menjadi hegemoni tunggal; kapitalisme barat yang direpresentasikan oleh Amerika serikat. Sebuah ideologi sedang menyerah. Dan ideologi yang satu mulai melakukan hegemonisasi global sebagai sebuah konsekuensi logis, ideologi yang merasa menjadi pemenang.

Perlombaan senjata yang selalu menjadi babak utama dari dua perseteruan ideologi yang disertai dengan penciptaan pakta pertahanan; NATO vis a vis Pakta Warsawa, yang dalam posisi antagonis nampaknya mulai berakhir. Secara militer blok barat yang lebih di identikan dengan Amerika Serikat mulai pegang kendali. Dan terbukti Pakta Warsawa pun tidak laku dan bubar. Peran Amerika Serikat pasca keruntuhan Uni Sovyet dalam percaturan dunia mulai menampakan hegemoninya.

Sebagai kekuatan adidaya yang nyaris tanpa tandingan Amerika menjelma menjadi "polisi dunia" yang seakan - akan berhak menentukan vonis berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Isu-isu demokratisasi dan isu-isu HAM misalnya telah menjadi komoditi jualan dari langkah Amerika untuk menekan sebuah komunitas atau negara yang dianggap berhadapan diametral- antagonis dengan garis politiknya.

Sehingga atas nama HAM dan Demokrasi Amerika sering kali melakukan intervensi secara terang-terangan terhadap negara lain. Kasus
Panama misalnya adalah bukti tak terbantahkan dari intervensi Amerika sebagai polisi dunia. Selain itu Amerika Serikat sering kali menunjukan pola politik standar gandanya yang selalu menampilkan dua sisi yang bertolak belakang .

Kasus politik standar ganda Amerika sangat terasa dikawasan timur tengah, terutama masalah Palestina versus Israel, dimana Amerika disatu sisi selalu menjadi penggagas dan sponsor perdamaian tapi disatu sisi pula Amerika dengan sengaja selalu membuat buntu jalan perdamaian karena Amerika selalu berposisi sebagai pelindung setia Israel yang sering kali menjadi pelaku pelanggaran jalan perdamaian. Dari kawasan timur tengahlah Amerika menciptakan bibit-bibit permusuhan yang seakan-akan mengakar tajam. Kasus
Libya, kasus Iran, kasus Suriah dan kasus Perang Teluk I dalah kasus -kasus besar yang melibatkan Amerika berhadapan diametral vis a vis dengan beberapa negara di timur tengah.

Dan yang patut dicatat pasca berakhirnya lawan yang setara dari Amerika; Uni Sovyet, adalah peran PBB yang terkesan selalu tidak berdaya bila berhadapan dengan Amerika Serikat. Tentunya hal ini tak lepas dari situasi wajah dunia yang tidak bipolaristik lagi tapi sudah unipolaristik dibawah hegemoni Amerika, disamping itu secara finansial Amerika Serikat adalah donatur terbesar dari badan multilateral tersebut. Oleh karena itu PBB kerapkali selalu melegitimasi tingkah laku "polisionalnya", mulai dari pemberian beberapa embargo sampai kasus perang teluk I yang sedikit banyaknya Amerika mengambil peran dominan.

Tentunya kawasan timur tengah bagi Amerika itu sendiri merupakan kawasan strategis baik dilihat dari kaca mata kepentingan ekonomi dimana ada sumber minyak yang melimpah maupun dari kacamata politik dimana ada Israel "si anak emasnya' Persoalan - persoalan di timur tengah tengah sealu mencatatkan keterlibatan Amerika dengan porsi yang besar oleh karena itu sangat logis bila ada pandangan bahwa proyek besar dari ekspansi ekonomi - politiknya Amerika berada di Timur tengah. Konsekuensi dari keterlibatan Amerika yang terlau besar melahirkan rival-rival baru yang banyak dari rival tersebut pada awalnya adalah kawan politiknya.

Kasus yang paling dicatat adalah kasus Irak yang sekarang menjadi sebuah kasus yang menjadi contoh kongkrit dari tingkah laku Amerika yang pongah dan hegemonik. Kasus Irak mungkin menjadi kasus terbesar dari kisah Amerika sebagai "polisi dunia" dan sekarang kasus ini benar-benar menjadi bibit paling laten dari dari rangkaian kekerasan secara global. Dan pasca peristiwa 11 September 2001 membawa dampak baru dari mulai munculnya konflik yang lebih cepat terakumulasi dalam konflik fisik; perang !

Terbukti kemudian gemuruh mesin perang menderu.
Baghdad pun jatuh setelah hujaman bom bagai hujan deras jatuh mencabik tanah babilonia tersebut. Irak koyak moyak. Darah bersimbah dari rakyat sipil yang tidak berdosa. Luka kemanusian menganga. Saddam pun jatuh. Sang Adidaya masuk dengan pongah sebagai polisi dunia yang merasa mampu menyelesaikan masalah. Tapi apa lacur yang terjadi. Kekerasan malah berkepanjangan, nyaris tanpa ujung. Cerita senjata pemusnah massal, ternyata cuma dongeng fiksi si Tuan Bush dan CIA. Amerika kadung dungu soal Irak. Kini yang tersisa kesombongan bodoh dari Bush, sekaligus pembukti bahwa soal Irak tidak lebih dari soal minyak dan si anak emas Israel.

Tidak pelak lagi memang, pasca peristiwa
11 September 2001, arah kebijakan, garis politik dan isu-isu politik luar negeri Amerika berubah total. Amerika mulai menerapkan langkah offensif-paranoid terhadap segala sesuatu yang dianggap membahayakan kepentingan nasionalnya. Kebijakan Amerika serikat terhadap dunia luar menjadi kebijakan yang penuh "paronia". Dengan kekuatan "hyper poweritasnya", Amerika seakan-akan berhak menjadi penentu "moral clarity" yang berhak menentukan siapa yang jahat dan siapa yang benar.

Cap teroris menjadi sebuah alat untuk melegitimasi kecurigaan Amerika. Sebuah kecurigaan imbas dari peristiwa
11 September 2001. Afganistan yang diembel-embeli dengan sosok Osama Bin Laden menjadi target pertama dari pembenaran sebuah kecurigaan yang berlebihan.

Selain Afganistan tentunya adalah Irak yang sebenarnya bisa dikatakan perseteruan jilid dua tapi dengan nuansa penambah; dunia yang dibayangi isu-isu terorisme. Dan Irak pun menjadi sasaran dari si polisi dunia yang menganggap Irak berpotensi besar menjadi pemicu sebuah perang dan membahayakan perdamaian dunia karena kepemilikan senjata kimia yang sampai saat ini sepertinya hanya sebuah bualan besar.

Maka tanpa restu PBB dan penolakan global terhadap tindakan sepihak Amerika Serikat, persiapan perang pun digelar besar-besaran dan perang pun pecah; perang Teluk jilid II.- konflik Amerika versus Irak babak kedua.Perang teluk jilid II merupakan cerita konflik dari timur tengah yang tidak terselesaikan pada perang teluk jilid I. hal ini juga banyak dipengaruhi oleh peta dunia yang berubah secara drastis. Bipolarisasi diganti unipolarisasi.

Keruntuhan Uni Sovyet di ganti hegemoni- monolitik Amerika Serikat.Tentunya wajah dunia yang berubah drastis dengan munculnya satu kekuatan besar di tangan satu negara yang menguasai hampir sebagian besar jaringan ; jaringan ekonomi, politik, ideologi, intelejen dan jaringan kekuatan militer berekses serius pada pergerekan global dan pola-pola interaksi internasional. Amerika Serikat muncul dengan kekuasaan adidaya yang nyaris tanpa tandingan, sehingga tingkah laku dalam percaturan global lebih banyak ditentukan oleh keinginan dan selera Amerika itu sendiri. Atau bisa dikatakan Amerika telah menjadi semacam polisi dunia yang berjalan dengan kehendak dan hukum yang digariskan sendiri.

Isu-isu internasional lebih banyak merupakan upaya pencitraan dan representasi Amerika itu sendiri. Dan itu tergambarkan dengan jelas dikawasan timur tengah. Kawasan timur tengah selalu mencatatkan campur tangan Amerika yang terlalu dalam, hal ini sepertinya membuktikan asumsi bahwa kawasan itu adalah kawasan strategis bagi kepentingan AS itu sendiri, karena beberapa hal;
Pertama
, keberadaan Israel sebagai kongsi politik terdekat AS di timur tengah, oleh karena itu amerika berusaha keras menjaga dan melindungi eksistensi politik Israel sebagai representasi wajah Amerika ditimur tengah. Apapun yang dikerjakan di timur tengah, dipastikan keberadaaan
Israel dengan tindak tanduk teroristiknya tidak akan di ganggu gugat. Tentu banyak yang mempengaruhi"kongsi politik" tersebut; lobi kuat , penguasaan sumber ekonomi, sumbangan finansial dan penguasaan jaringan teknologi, informasi dan media sebagian besar dikuasai oleh Yahudi.

Kedua,
kawasan timur tengah itu sendiri yang kaya dan sarat dengan sumber daya alam terutama minyak bumi. Dan Amerika Serikat merupakan pengimpor dan pengkonsumsi minyak terbesar didunia. Kawasan minyak tersebut sangat strategis dari kaca mata kepentingan ekonomi, terutama suplai minyak. Akhir-akhir ini dicatat cadangan minyak AS hanya mencapai 22 milyar barel atau sekitar 2% saja dari cadangan minyak dunia. Hal ini menunjukan terus berkurangnya cadangan minyak AS.
Sekarang AS merupakan pengimpor minyak terbesar didunia, sekaligus memiliki kekuatan militer terbesar di dunia. Sehingga kedua realitas tersebut saling bertautan dan muara pertautan tersebut bertemu di timur tengah yang kaya minyak.

Ketiga,
masalah munculnya militasi dan fundamentalisme yang merebak dikawasan timur tengah yang mengambil posisi berhadapan dengan Amerika. Mulai dari berakhirnya perang
Arab- Israel, pasca revolusi iran, kekuatan baru Libya dan kekuasaan diktatorial Saddam Husein di Irak yang anti Amerika.

Fenomena tersebut memaksa Amerika tetap mempertahankan hegemoni dan dominasi yuntuk memproteksi kepentingan amerika itu sendiri dikawasan tersebut. Sebenaranya fenomena fundamentalisme lahir dari kebijakan Amerika sendiri yang diskriminatif, sehingga militansi muncul sebagai buah dari tingkah laku Amerika sendiri .Dari ketiga asumsi tersebut pada akhirnya bertemu dalam dalam satu wilayah politik yaitu ; konflik. Konflik Arab-Israel yang sebagian besar banyak melibatkan Amerika berakhir dalam perang terbuka tahun pertengahan 60-an yang melibatkan kekuatan militer masing - masing negara yang bertikai;
Mesir, Libya, Suriah, Yordania, Israel dan lain-lain.

Perang tersebut menandai memburuknya hubungan barat (AS) dengan kalangan negara Arab. Kasus Lockerbie; pemboman pesawat PANAM dan kengganan
Libya menyerahkan pelaku yang di indikasikan Amerika melahirkan penyerangan terhadap Istana Presiden Libya, Muamar Khadafi. Dan yang terakhir dan terus berlanjut berlarut-larut adalah kasus Irak di Perang Teluk I dan II.
Sebenarnya adan yang menarik dari konflik Irak versus AS sekarang ini, dibalik adanya konflik jilid I dan II, tapi dibalik konflik tersebut ada latar belakang kisah yang menarik untuk di cermati. Pertama, tidak di pungkiri Irak pernah menjadi kawan dan sekutu dari AS, terutama pasca revolusi di
Iran yang berhasil menumbangkan rezim Shah Iran yang pro Amerika. Perubahan di Iran tentunya mengkhawatirkan posisi pengaruh AS di kawasan Timur Tengah tersebut, apala dengan ketika itu AS sedang dalam proyek konfrontasi perang dingin dengan Uni Sovyet. Berubahnya peta politik memaksa AS mencari patron politik baru yang bisa diajak kerja sama. Maka tidak heran ketika terjadi konflik batas negara antara Irak versus Iran dan berujung pada perang fisik sekitar tahun 1980-an, AS dengan tegas berada di pihak Irak. Maka tahun 1980-an Irak merupakan sekutu barat (AS), banyak bantuan militer yang didapat oleh Irak berasal pihak barat.

Kedua,
pasca perang Irak-Iran, Irak mmengalami kehancuran yang begitu besar tapi keberadaan sumber daya minyak telah menolong kembali kebangkrutan yang disebabkan oleh perang tersebut. Dengan minyak Rezim Saddam Husein berhasil membangun kembali kekuatan militernya.
Ada satu hal yang patut dicatat adalah berubahnya orientasi patron politik Irak yang mulai melirik Uni Sovyet. Banyak kemampuan persenjataan didapat dari Uni Sovyet, rudal scuud misalnya merupakan adopsi teknologi dari Uni Sovyet.

Tentunya berubahnya sikap politik Saddam Husein sangat mengkhawatirkan AS, apalagi secara ekonomi Irak salah satu penghasil minyak terbesar dunia dan secara politik Irak merupakan negar yang kuat secara militer, sehingga berubahnya orientasi politik Irak sangat mengkhawatirkan kepentingan politik strategis AS apalagi disana ada Israel yang secara turun temurun merupakan musuh dari negara-negara Arab termasuk Irak.

Ketiga,
maka saat Irak menginvasi
Kuwait dengan alasan secara geografis-historis Kuwait adalah salah satu propinsinya pada tahun awal 90-an, AS bereaksi keras. Dengan mandat PBB AS menjadi bagian dominan dari pasukan Multi Nasional. Reaksi AS makin keras saat Irak berusaha melebarkan wilayah perang dengan menyerang Israel. Tentunya pelebaran wilayah perang tersebut bertujuan menarik simpati negara Arab untuk mendukungnya. Penyerangan kewilayah Israel diharapkan bisa menarik Israel ke kancah perang teluk dan keterlibatan Israel dalam kancah konflik diharapkan negara Arab akan berubah sikap.

Keempat,
pasca perang teluk I yang menempatkan Irak sebagai pihak kalah perang menerima konsekuensi kekalahannya yaitu adanya zona larangan terbang, zona militer di wilayah Kurdi dan embargo ekonomi pada irak. Sebagai catatan Suku Kurdi pasca kekalahan Irak pada Perang Teluk I pernah mencoba melakukan perlawanan fisik tapi dengan cepat dapat diredam oleh rezim Saddam Husein.

Tindakan demiliterisasi dan embargo ekonomi diharapkan oleh Amerika bisa megkoersi Irak dan secara militer Irak menjadi lemah. Demiliterisasi persenjataan Irak juga dilakukan lewat perlucutan dan penghancuran senjata yang dianggap pemusnah massal dan punya jangkuan jarak jauh. Selain itu penempatan pasukan AS dan pengiriman Tim pemantau senjata PBB diharapkan Irak bisa menjalin kerja sama dan tundukm pada keinginan dunia internasional yang notabene lebih banyak dimotori oleh AS.

Kelima,
bibit konflik mulai berbenih kembali saat Rezim Saddam Husein mengusir Tim Pemantau Persenjataan Kimia Irak. Tentunya langkah Irak tersebut tampaknya dilakukan setelah melihat perubahan politik di AS yaitu terjadinya pergantian presiden dari Bush Senior ke Bill Clinton. Dan pasca peristiwa WTC saat Bush Jr berkuasa di AS konflik itu pecah kembali yang berujung pada invasi AS dengan alasan terorisme dan senjata pemusnah massal yang sampai sekarang masih abu-abu.Pasca peristiwa 11 September 2001, kebijakan Amerika keluar berubah drastis menjadi sangat offensif. Amerika menentukan sendiri siapa yang dijadikan lawan. Cap terorisme menjadi mudah dilekatkan pada negara yang dianggap bersebrangan dengan Amerika. Tahun 2000-an mencatatkan invasi
Afghanistan dan lagi - lagi Irak di Invasi dengan alasan yang nyaris sama teroris dan membahayakan perdamaian dunia.

Terutama kasus Irak yang menarik dicermati dengan alasan kepemilikan senjata pemusha massal AS menerang Irak tanpa mempedulikan keberatan PBB dan dunia internasional. Tentunya ini menarik karena Irak merupakan negara yang sama dalam perang teluk I. maka banyak asumsi bermunculan dari konflik di Timur Tengah pasca peristiwa 11 September 2001, apa sebenarnya yang menjadi motif dari konflik yang tak berkesudahan dan itu melibatkan Amerika serikat secara serius.

Dari beberapa perkembangan banyak hal yang bisa membaca arah motif dari konflik fisik di kawasan trouble spot itu, antara lain; Pertama, motif minyak, seperti diketahui kawasan timur tengah adalah penghasil minyak paling besar didunia. Dan minyak pernah menjadi senjata yang ampuh yang digunakan
Nasser pada perang Arab-Israel, target dan tujuan yang bermotif penguasaan minyak ini merupakan target prioritas AS di timur tengah. Hal ini mereka lakukan adalah untuk mencari solusi dari ancaman krisis defisit minyak.

Dengan langkah ini AS memprediksikan bahwa dengan melakukan intervensi dan menguasai langsung negara-negara kaya minyak, maka mereka akan selamat dari ancaman krisis tersebut. Dengan menguasai
Irak- AS bisa leluasa mengatur harga minyak dunia karena Irak merupakan tiga besar penghasil minyak dunia. Selama ini pengaturan harga minyak masih dikuasai oleh OPEC, bukan oleh satu negara tertentu.

Disisi lain, bargaining politik AS juga semakin kuat karena semua tahu bahwa minyak merupakan kekuatan yang sangat vital dalam kancah pergumulan politik dunia untuk berebut pengaruh.sebagai mana Afghanistan yang di invasi, motif utamanya bukan semata-mata masalah teriorisme tapi dicurigai bermotif minyak karena keberadaan laut Kazvia yang kaya minyak dan itu berlaku juga bagi Irak.

Kedua,
perang terhadap Irak merupakan langkah untuk menjaga eksistensi dan keamanan negara
Israel kongsi paling dekat AS. Seperi diketahui Israel merupakan musuh klasik dari kalangan negara Arab, sehingga kehadiran Israel dengan segala tindak tanduknya selalu melahirkan konflik dengan negara-negara arab.

Sederhananya
Israel adalah masalah paling sensitif di timur tengah, sementara Israel bagi AS sendiri merupakan kekuatan penopang paling utama dari kebesaran AS sebagai negara adidaya lewat penguasaan sumber ekonomi AS. Oleh karena itu keberadaan Irak sebagai sebuah kekuatan yang sangat anti Israel dianggap sebagai ancaman serius terhadap kepentingan AS terutama yang berkaitan dengan Israel.

Ketiga
, menghancurkan Irak merupakan target prioritas utama AS agar semua target dan tujuan baik ekonomi dan politik bisa tercapai terutama penataan dalam menata kembali wilyah timur tengah. Irak dianggap test case pertama penataan kawasan timur tengah sehingga bisa dirasakan efek dari penaklukan Irak. Diharapkan penaklukan Irak bisa membuat negara-negara ditimur tengah yang selama ini cenderung membangkang bisa berpikir ulang kalau berkonfrontasi dengan AS. Selain itu dengan penguasaan Irak merupakan pintru gerbang pemberlakuan pengaruh AS dan bisa berlanjut kenegara alin, atau dalam kata lain nilai-nilai menurut selera AS bisa berlaku di timur tengah. Tentunya hal ini bisa meminimalisir potensi perlawanan.

Dan mempersempir ruang gerak dari para penentang AS seperti HAMAS, Ikhwanul Muslimin, Al Qaeda,
Iran, Libya dan Suriah dan lain sebagainya. Keempat, motif hegemoni pensuplai kebutuhan senjata dari negara-negara d timur tengah. Selama ini perkembangan regional mengkhawatirkan AS bisa tersingkir dari penguasaaan sebagai penjual senjata terbesar di kawasan timur tengah.

Banyak negara-negara di kawasan timur tengah mengambil alternatif lain, membeli senjata dari Cina, Rusia, dan negara Eropa lainnya. Maka cukup beralasan konflik yang terjadi di timur tengah bermotifkan perdagangan senjata. Dengan diciptakannya negara "boneka" AS bisa aman mendikte negara di timur tengah yang notabene negara petro dollar untuk tetap memanfaatkan jasa industri senjata AS dan tentu jasa keamanan dengan penempatan pasukan AS di kawasan tersebut. Semua itu bisa menjadi jalan yang mulus untuk mengontrol kawasan yang sering kali menjadi tempat munculnya negara dan kelompok pembangkang terhadap kepentingan AS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar